Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2016

Struktur Al-Qur'an

Keunikan Struktur Al-Qur'an
Teks tertulis Al-Qur'an yang ada di hadapan kita sekarang terdiri 6236 ayat, 114 surat dan 30 juz. Mengenai strukturnya, Arkoûn menulis:

...Sesungguhnya termasuk sulit untuk mendeskripsikan secara definitif kontentum ataupun isi daripada Al-Qur'an. Kesulitan ini timbul karena kita terancam akan terjatuh secara langsung ke dalam cara penafsiran lama dan bayangan imajiner (bawahsadar) keagamaan tradisional. Ditambah lagi, kita sendiri mengetahui bahwasanya sistematika penyusunan surat dan ayat dalam ‘Mushaf' (Teks tertulis Al-Qur'an) tidak mengikuti urutan kronologis yang sebenarnya, tidak juga mengikuti norma rasio ataupun logika tertentu. Karena itu, bagi cara berpikir modern kita yang terbiasa dengan metode penulisan karangan yang sudah baku berdasarkan tuntutan logika, maka teks Mushaf tersebut  berikut dengan sistematika penyusunannya akan membuat kita terheran-heran karena ‘kekacauannya'.

Tetapi saya telah menjelaskan, dalam beber…

Diskursus Lisan dan Teks Tulisan AlQuran

Fenomena historis yang kita dapatkan menyatakan bahwa Al-Qur'an telah melewati dua fase kodifikasi, yaitu fase diskursus lisan dan kemudian fase teks tulisan. Ilmu linguistik modern dan antropologi bahasa banyak membantu kita dalam menjelaskan perbedaan yang menjadi akibat signifikan dari sifat-sifat kedua fase tersebut.

Dengan bantuan kedua ilmu baru itu sebagai perangkat analisis, akan terlihat bahwa praktek operasional rasioning (pola berpemikiran) dan memorizing (pola penyimpanan data) dalam fase yang pertama berbeda sama sekali dengan yang berlangsung pada masyarakat yang sudah mengenal tulisan dan selalu mengaitkan (menyesuaikan) semua aktivitasnya dengan sebuah teks tertulis.

Pada fase yang pertama, fenomena historis menunjukkan bahwa Kitab Suci (Al-Qur'an dalam pengertian awal yang dimaksud oleh berbagai ayat Al-Qur'an [2]) adalah sebuah pedoman umum yang masih bersifat alami, terbuka dan inklusif (secara egaliter menjadi milik semua komunitas sahabat yang hidup be…

Refleksi Studi Al-Qur'an

Hakikat Teks Al-Quran Teks sebagai teks itu sendiri adalah makhluq yang mati. Terlepas dari perdebatan berdarah yang pernah terjadi, Al-Qur'an sebagai sebuah "teks" juga harus diposisikan sebagai benda mati yang bisa difungsikan sesuai dengan tuntutan "konteks" yang melingkupi pembaca dan transformatornya (orang yang berupaya untuk mengadopsi "petunjuk-petunjuknya"). Karena itu, beragam corak dan aliran interpretasi yang pernah timbul juga disebabkan oleh kedudukan Al-Qur'an sebagai Kitab Suci, atau katakanlah yang disucikan oleh orang-orang yang bersaksi "bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya".

Tingkat relevansi sebuah teks yang "mati" dengan berbagai konteks personal, ruang dan waktu itu banyak dipengaruhi oleh struktur dan sistematika teks, gaya bahasa, validitas kontentum dan prinsip-prinsip umum (al-mabâdi‘ al-‘âmmah) yang tercakup dalam teks itu. Atau dengan bahasa lain: ketahanan …

Falsafah AlQuran

Essai Tentang Falsafah Al-Qur'an (Konteks I'jâz dalam Menghadapi Tantangan Modernitas) Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat Manusia. Allah berfirman: "Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A‘râf: 2)

Fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk ini ditegaskan oleh Al-Ustâdz Al-Imâm Muhammad ‘Abduh, sehingga beliau menyatakan bahwa tujuan yang pertama dan utama dari ilmu Tafsir adalah: merealisasikan keberadaan Al-Qur'an itu sendiri sebagai petunjuk dan rahmat Allah, dengan menjelaskan hikmah kodifikasi kepercayaan, etika dan hukum menurut cara yang paling bisa diterima oleh pikiran dan menenangkan perasaan. Dengan demikian, tujuan yang sebenarnya dari ilmu ini adalah untuk mencari petunjuk kebenaran di dalam Al-Qur'an. (Al-Khûlî, 1995: 229)

Akuntabilitas Al-Qur’an

Aspek Aksiologis dari Falsafah Al-Qur'an
Meskipun agak dikesampingkan - atas nama obyektivitas - dalam awal proses penerapannya, Falsafah Al-Qur'an - sebagai sebuah ilmu dan bukan hanya sebagai sebuah prinsip-prinsip etis yang bersifat umum - pastilah ditujukan untuk membuktikan validitas Al-Qur'an secara ilmiah dan menghidupkan potensi internal Al-Qur'an itu sendiri (tidak dalam konteks metafisiknya) menghadapi perkembangan realitas.

Menghidupkan Al-Qur’an

Dunia ini memperlihatkan beberapa fenomena peradaban teks, sebuah peradaban yang memposisikan sebuah teks "suci" menjadi poros sentral pergerakan dan perkembangannya, di antaranya adalah peradaban Islam. (Abû Zayd, 1994: 9)

Dalam fenomena seperti ini, bisa dibayangkan adanya proses pemantulan entitas ontologis yang berlangsung bolak-balik antara Al-Qur'an dan ummat Islam. Hakikat ontologis dan ajaran-ajaran Al-Qur'an bisa dilihat dan dinilai dari peradaban dan prilaku ummatnya. Dan sebaliknya, fenomena historis yang berlangsung secara keseluruhan dalam kehidupan ummat bisa dirujukkan ke dalam Al-Qur'an.

Sayangnya, sejak beberapa abad yang lampau dan sampai saat ini, ummat Islam tidak mampu membumikan Al-Qur'an itu dalam kehidupan nyata, seutuhnya. Bagaikan sebuah kaca retak, ummat Islam memantulkan sebuah gambaran yang cacat tentang kebenaran Al-Qur'an.

Episteme dan Metodologi Interpretasi AlQuran

Epistéme Penafsiran Al-Qur'an
Ada beberapa terminologi prinsipil yang seharusnya diperhatikan dan membayangi alam bawahsadar seorang interpreter Al-Qur'an, antara lain:

AnakronismeIntertekstualitasHistorisitasInterpretasi

Nabi Muhammad Adalah Cahaya

Benarkah Nabi Muhammad Adalah Cahaya? Nabi Muhammad Adalah Cahaya, Penerang Dan Seorang Manusia Biasa Yang Lebih Baik Dari Semua Makhluk Ciptaan Allah.

PERTANYAAN: APAKAH NABI SAW., BENAR - BENAR CAHAYA, ATAU MANUSIA BIASA SEPERTI KITA SEBAGAIMANA YANG DIGAMBARKAN AL-QUR’AN?


JAWABAN: Benar, Nabi Muhammad SAW,. adalah cahaya, Allah berfirman : "Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak isi alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan "( Al-maidah : 15 ). 
Dan Allah berfirman : "Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya , dan untuk menjadi cahaya yang menerangi" ( Al-ahzab : 46 ).
Beliau SAW., adalah cahaya dan penerang, maka tidaklah salah apabila anda mengatakan Nabi Muhammad SAW., adalah cahaya. Karena Allah Swt., telah menamai beliau dengan cahaya.  Dalam suatu riwayat para sahabat pernah berkata …