• 30.5.16

    Akuntabilitas Al-Qur’an

    Aspek Aksiologis dari Falsafah Al-Qur'an


    Meskipun agak dikesampingkan - atas nama obyektivitas - dalam awal proses penerapannya, Falsafah Al-Qur'an - sebagai sebuah ilmu dan bukan hanya sebagai sebuah prinsip-prinsip etis yang bersifat umum - pastilah ditujukan untuk membuktikan validitas Al-Qur'an secara ilmiah dan menghidupkan potensi internal Al-Qur'an itu sendiri (tidak dalam konteks metafisiknya) menghadapi perkembangan realitas.


    Dalam sebuah diskusi tentang aspek-aspek keajaiban dalam Al-Qur'an yang dibawakan oleh Arkoûn, seorang islamolog kontemporer bernama Maxim Robinson menegaskan: "Bagaimanapun juga, Al-Qur'an tidak pernah sekalipun mengajak kepada bentuk keimanan yang buta, keimanan yang berlawanan dengan segala sesuatu yang diketahui sebagai kebenaran aksiomatis dan melawan segala bentuk refleksi rasionalis. (Arkoûn, 1996:216-217)

    Pembuktian kebenaran Al-Qur'an (syari‘at) dilakukan - terutama - dengan meletakkan "dirinya sendiri" di atas meja penelitian yang terbuka untuk semua orang (publik, jumhûr). Bukan (hanya) dengan konteks metafisik dan keajaiban mukjizat material yang mencengangkan.

    Mungkin tidak semua orang bisa meniliknya dari segi keindahan logika presentasi dan bahasanya. Apalagi kalau dia tidak lahir dalam tradisi bahasa Arab. Banyak juga yang hanya mampu meniliknya dengan memverifikasi validitas kontentumnya, baik yang termasuk di dalam tipikal hukum, maupun fakta sejarah dan isyarat-isyarat sainsnya.

    Habib Blog uses cookies to ensure you get the best experience on our website. More info

    1 comment:

    Copyright © Habib Blog

    Promoted Link: Tafsir Sponsored By: Gratis Template By: MP3 Nasyid