18.7.13

Berjumpa Dengan Nabi Muhammad SAW

Apakah Mungkin Dalam Keadaan Sadar Bisa Melihat Nabi Muhammad SAW?

Apakah Hakikat Sebenarnya Kejadian Ini (Melihat Nabi Muhammad)?

JAWABAN:

Persoalan melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar bukanlah bagian dari syariat agama, yang mengakibatkan adanya penambahan atau pengurangan dalam syariat agama. Ini adalah permasalahan yang harus dipertanggung jawabkan kebenarannya oleh orang yang mengaku mengalaminya. Persoalan ini termasuk dalam kategori mubasysyirat dan karamah.

Dengan melihat Nabi Muhammad SAW tidak berarti menafikan bahwa beliau telah wafat. Seseorang yang mengalaminya tidak berarti sebagai orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini tidak akan berakibat apa-apa.

Setelah kita tahu hal itu, secara logika coba kita perhatikan apakah kejadian ini termasuk kejadian yang mustahil?. Kejadian mustahil adalah apabila ada suatu benda di tempat yang berbeda pada waktu yang sama. Melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar bukanlah termasuk melihat suatu benda pada dua tempat berbeda dalam satu waktu. Karena tempat Nabi Muhammad SAW sebenarnya adalah didalam kubur beliau, beliau beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT, mengerjakan shalat dan lain-lain. Sebagaimana yang dilakukan para nabi, mereka mengerjakan shalat didalam kubur mereka.

Dari Anas RA, Rasulullah SAW telah bersabda: "Para nabi hidup dalam kubur mereka, mereka mengerjakan shalat". (Ad-dailami, Musnad Firdaus 1/119. Abu Ya'la, Musnad Abu Ya'la 6/147. Ibnu A'di, Al-kamil 2/327. Haitsami, Majmaazzawaid 8/211)

Dan diperkuat lagi dengan sabda beliau: "Aku telah melintas dihadapan Musa pada malam Isra' Mi'raj di daerah awan tebal yang merah, aku melihatnya melukan shalat didalam kuburnya". ( HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad, 2/315. Muslim, shahih Muslim 4/1845. An-nasa i, Sunan An-nasa i 1/419. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban 1/242. Ibnu Abi Syaibah, Mushannif Ibnu Abi Syaibah 7/335. Thabrani, Ausath 7/13)

Bila seseorang dalam keadaan sadar melihat Nabi Muhammad SAW disekitar kuburan beliau hal ini bisa termasuk tanda–tanda kewaliannya. Kejadian ini tidaklah bertentangan dengan akal sehat dan juga diperkuat oleh nash yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab RA.

Ketika ia berkhutbah Allah menampakkan keadaan pasukan yang diutusnya di daerah Nahawan Persia, beliau memanggil mereka: "Wahai pasukan yang ada di gunung, ada musuh di balik gunung". Dan pasukan itu pun mendengar panggilan Umar. (HR. Thabrani, Tarikh Thabrani 2/553. Ibnu 'Abdil Barri, Isti'ab 4/1605. Ibnu Hajar, Al-Ishabah 3/6 )

Apabila kejadian ini terjadi pada selain Nabi, maka tidak hanya terbatas untuk Umar bin Khattab atau para sahabat saja. Begitupula yang dinampakkan tidak harus hanya pasukan perang atau yang lainnya.

Melihat Nabi Muhammad SAW bisa berupa nabi yang sebenarnya, dalam artian Nabi Muhammad SAW berada di raudhah-nya (daerah sekitar kuburan beliau), Orang melihat Nabi Muhammad SAW, melihat gambaran beliau, maka gambaran itu adalah gambaran dari alam yang sama. Hal ini bisa terjadi dikarenakan besarnya rasa cinta pada Rasulullah SAW, selalu mempelajari riwayat hidup beliau dan merenungi kepribadian beliau. Seseorang bisa saja memiliki banyak gambar dikarenakan banyak permukaan yang memberinya pantulan, seperti cermin dan lainnya.

Hadist Nabi SAW yang memperkuat kemungkinan bisa melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata:

"Aku mendengar Nabi SAW berkata: "Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadan sadar. Setan tidak akan bisa menyerupai aku".(HR. Bukhari, Shahih Bukhari 6/2567. Abu Daud, Sunan Abu Daud 4/305)

Ungkapan Nabi SAW: "...akan melihatku dalam keadan sadar..." menunjukkan adanya kemungkinan melihat beliau dalam keadaan hidup. Membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat sangatlah tidak cocok, karena dua hal:

Pertama: Semua umat Nabi Muhammad SAW akan melihat Nabi SAW pada hari kiamat, baik yang melihat beliau dalam mimpi di dunia, maupun yang tidak.

Kedua: Hadist tidak membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat. Membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat termasuk at-takhsis bighairi mukhassis.

Permasalahan ini telah ada sejak zaman Imam Suyuthi, beliau mengarang mengarang sebuah buku tentang ini dengan judul "Tanwirul Halki Fii Imkani Rukyatunnabi Wal Malaki". Dalam muqaddimah buku itu beliau berkata:

"Telah banyak pertanyaan mengenai orang yang melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar. Pada zaman sekarang, ada sebagian orang yang kurang pengetahuannya, mengingkari hal ini dan bahkan berlebih–lebihan, mereka mengatakan itu adalah hal yang mustahil. Maka sayapun mengarang buku ini, dan saya beri judul : "Tanwirul Halki Fii Imkani Rukyatunnabi Wal Malaki".

Didalam buku itu beliau menulis dalil–dalil dan penjelasan-penjelasan yang menunjukkan adanya kemungkinan melihat Nabi SAW mendengar suaranya dan juga para Malaikat.

Kata "sadar" bila dikhususkan pada hari kiamat tidaklah tepat, karena pengkhususan itu tidak memiliki fungsi. Semua umat Muhammad SAW pada hari kiamat akan melihat beliau, baik yang memimpikan beliau maupun yang tidak. Dalam kitab Syarhul Hadits Ibnu Abi Hamzah (Tarjihul Baqaul Hadist 'Ala Umumihi Fii Hayatihi Wa Mamatihi Liman Lahu Ahliyatil Ittiba' Lissunnah Wali ghairihi) yang beliau ambil dari kitab hadist Imam Bukhari beliau berkata:

"Barang siapa yang berpendapat takhshish bi ghairi makhsush (mengatakan melihat nabi dalam keadan sadar hanya pada hari kiamat) maka ia salah. Ia mengingkari sabda Rasulullah SAW, ia tidak mengakui kekuasaa Allah, mengingkari karamah para Wali padahal dalil-dalil dari hadist sudah sangat jelas".

Imam An-Nafrowi Al–Maliki berkata: "Para Ahli Hadist menyepakati adanya kemungkinan melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar atau mimpi, namun mereka memperselisihkan apakah melihat Nabi SAW dalam wujudnya asli atau hanya gambaran saja".

Kebanyakan Ulama berpendapat dengan pendapat yang pertama (melihat nabi dalam wujud aslinya), sedangkan Imam Al–Ghazali, Al-Imam Al-Qarafi, Imam Al-Syafi'i dan lainnya perbendapat dengan pendapat yang kedua (melihat nabi dengan gambarannya saja).

Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama beralasan: "Apa yang terlihat adalah bagian dari cahaya Rasulullah SAW adalah cahaya yang menerangi, seperti halnya kita melihat cahaya lentera, atau matahari dari kejauhan, begitu juga dengan tubuh Rasulullah SAW, beliau tidak meninggalkan kuburannya, akan tetapi Allah membuka hijab, menghilangkan semua penghalang hingga dapat dilihat oleh orang walaupun berada di Timur dan di Barat. Atau Allah SWT membuka hijab hingga terlihatlah apa yang tertutupi.

Imam Qarafi menegaskan bahwa apa yang ia mimpikan (mimpi melihat Rasul SAW) ketika tidur adalah suatu peristiwa yang membekas yang tidak dialami oleh tidur biasa. Mimpi ini dialami oleh mata hati bukan mata biasa sebab beliau mengalaminya dalam keadaan buta.

Ibnu Abi Hamzah dan sebagian ulama menceritakan bahwa mereka melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar.

Tidaklah boleh seseorang mengingkari hadist yang berbunyi "Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar". Karena apabila ia mengingkarinya ia mengingkari adanya karamah para Wali dan metode penentuan hukum yang ia gunakan telah gugur, karena telah mengingkari apa yang telah hadist tetapkan. Syeihk Al-Qani menjelaskan hal ini didalam bukunya Sharhu Jauharuttauhid. (Al-Fawakih Ad-Dawani, An-Nafrawi 2/360).

Ibnu Hajj berkata didalam bukunyanya Al-Madkhal: "Sebagian orang ada yang mengaku melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar. Kejadian ini sangatlah jarang terjadi, tidak banyak orang yang mengalami kejadian ini, mereka yang mengalaminya tentulah orang yang memiliki sifat-sifat mulia pada zaman ini, bahkan hampir tidak mungkin menemukan mereka. Saya tidaklah mengingkari ada orang yang bisa mengalaminya, mereka adalah orang-orang mulia yang dijaga Allah SAW lahir dan batin mereka". ( Al-Madkhal, Ibnu Al-Haj 3/194).

Syeikh 'Alish berkata: "Melihat Nabi Muhammad SAW adalah salah satu faktor yang bisa menguatkan pendapat para ulama mujtahidin".

Imam Al-A'rif Abdul Wahab Sya'rani berkata: "Saya mendengar guru saya Aliyal Khawas berkata: "Menurut Ahli Kasyaf Qatibah (ahli tasawuf); tidaklah benar apabila seorang mujtahid berpendapat dengan pendapat yang melenceng dari syariat. Bagaimana mereka bisa melenceng sedangkan mereka berijtihad berdasarkan hasil penelitian mereka terhadap Al-Qur'an, hadist, pendapat para sahabat, dan berjumpanya ruh mereka dengan ruh Rasulullah SAW".

"Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW secara sadar dan berdialog langsung mengenai suatu permasalahan, apakah sesuai dengan dalil: "Wahai Rasulullah apakah ini perkataanmu atau tidak?". Sebelum menulis buku mereka, mereka bertanya kepada Rasulllah SAW mengenai Al-Quran dan hadist, bahkan mereka bernazar pada Allah SWT. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami memahami ayat dan hadist yang diriwayatkan si pulan seperti ini, apakah engkau ridha?". mereka mengamalkan apa yang mereka pahami dari perkataan dan isyarat Rasulullah SAW. Barang siapa yang tidak berkomentar tentang apa yang telah kami sebutkan mengenai kemampuan luar biasa para ulama dan pertemuan mereka dengan ruh Rasulullah SAW, kami katakan kepada mereka dengan penuh keyakinan: "Ini adalah bagian dari karamahnya para wali". (Fathul 'Ali Al-Malik, Syeikh 'Aliisy 1/92-93).

Dari semua pemaparan, kami berkesimpulan bahwa kejadian yang dialami orang -orang shalih seperti melihat Nabi SAW dalam keadan sadar, bisa saja terjadi. Tidak ada dalil aqli (logika) maupun nash Al-Qur'an atau hadits yang menafikannya. Tapi perlu diingat, tidak sembarang orang bisa mengalami kejadian ini, dan bila seseorang mengalaminya sebaiknya ia tidak menceritakannya pada orang yang tidak mempercayainya agar ia tidak dianggap berbohong. Berdialog dengan orang lain sesuai dengan jalan pemikiran mereka adalah cara berkomunikasi yang tepat.

Wallahu A'lam

Sumber: AlBayan AlQawim Li Tashhihi Ba'dul Mafahim
Karya: Dr. Ali Jum'ah
Diterjemah Kedalam Bahasa Indonesia Oleh: Muhammad Habib Effendi

Copyright © Habib Blog

Designed By: Fauzi Blog