31.5.16

Al-Qur'an dan Realita

Ayat-ayat Al-Quran Yang Diturunkan Allah Merupakan Sebuah Kumpulan Wahyu Yang Utuh Untuk Memenuhi ataupun Menolak Realita


Sungguhpun Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahun masa kenabian, (tentang masa penurunan wahyu ini, bisa dilihat secara mendetail dalam Al-Zarqânî, 1988: 53 et seqq). Tidak dengan sendirinya kenyataan ini memperkuat tesa sementara pemikir seperti Nashr Hâmid Abû Zayd yang menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan sesuai dan lebih dari itu berdasarkan realita. Abû Zayd menulis:

"Sesungguhnya ilmu Asbâb Al-Nuzûl membekali kita dengan fakta-fakta yang memperlihatkan kepada kita bahwa Teks ini (diturunkan) untuk memenuhi atau menolak tuntutan realita, dan menegaskan adanya relasi ‘dialog' dan ‘dialektika' antara Teks itu dan realita. Sesungguhnya data-data empiris faktual menegaskan bahwa Teks tersebut diturunkan secara berangsur-angsur selama 20 tahun lebih, sebagaimana menegaskan bahwa setiap ayat, atau sekelompok ayat mempunyai suatu latar belakang tersendiri yang membuatnya diturunkan, kemudian bahwasanya ayat-ayat yang turun dengan sendirinya tanpa mempunyai sebab dan latar belakang adalah sangat sedikit sekali". (Abû Zayd, 1994: 97)

Ternyata, tesa ini tidak sesuai dengan fenomena yang ada di hadapan kita. Di antara jumlah total ayat Al-Qur'an yang mencapai 6236 ayat, hanya ada 472 ayat yang mempunyai sebab dan latarbelakang [7]. Kalaupun boleh dielaborasikan kepada riwayat-riwayat yang lemah, jumlah maksimal yang bisa diperoleh hanya 888 ayat saja. (Muhammad, 1996: 93)

Struktur Al-Qur'an

Keunikan Struktur Al-Qur'an


Teks tertulis Al-Qur'an yang ada di hadapan kita sekarang terdiri 6236 ayat, 114 surat dan 30 juz. Mengenai strukturnya, Arkoûn menulis:

...Sesungguhnya termasuk sulit untuk mendeskripsikan secara definitif kontentum ataupun isi daripada Al-Qur'an. Kesulitan ini timbul karena kita terancam akan terjatuh secara langsung ke dalam cara penafsiran lama dan bayangan imajiner (bawahsadar) keagamaan tradisional. Ditambah lagi, kita sendiri mengetahui bahwasanya sistematika penyusunan surat dan ayat dalam ‘Mushaf' (Teks tertulis Al-Qur'an) tidak mengikuti urutan kronologis yang sebenarnya, tidak juga mengikuti norma rasio ataupun logika tertentu. Karena itu, bagi cara berpikir modern kita yang terbiasa dengan metode penulisan karangan yang sudah baku berdasarkan tuntutan logika, maka teks Mushaf tersebut  berikut dengan sistematika penyusunannya akan membuat kita terheran-heran karena ‘kekacauannya'.

Tetapi saya telah menjelaskan, dalam beberapa kajian yang lalu, bahwa di dalam "kekacauan" itu tersembunyi sebuah sistem semantik dan semiotika yang sangat dalam. Karena itu, seharusnyalah kita menyingkap tipologi diskursus yang digunakan dalam Al-Qur'an. Inilah yang saya lakukan dengan mengklasifikasikan dalam lima tipe, yaitu: diskursus kenabian, diskursus hukum, diskursus deskripsi cerita, diskursus kata-kata hikmah dan peribahasa, serta diskursus do'a-do'a dan puji-pujian." (Arkoûn, 1992: 90-91)

Meskipun klasifikasi tipologis di atas dirasa sudah mencukupi, adalah lebih baik kalau kita memodifikasi, merevisi nama/istilahnya dan menambahkan beberapa tipologi yang lain seperti: diskursus teologi dan kenabian, diskursus hukum syari‘at, diskursus cerita dan deskripsi sejarah, diskursus petunjuk-petunjuk etis, diskursus puja-pujian, diskursus  doa'a-doa, dan seterusnya.

Diskursus Lisan dan Teks Tulisan AlQuran

Fenomena historis yang kita dapatkan menyatakan bahwa Al-Qur'an telah melewati dua fase kodifikasi, yaitu fase diskursus lisan dan kemudian fase teks tulisan. Ilmu linguistik modern dan antropologi bahasa banyak membantu kita dalam menjelaskan perbedaan yang menjadi akibat signifikan dari sifat-sifat kedua fase tersebut.

Dengan bantuan kedua ilmu baru itu sebagai perangkat analisis, akan terlihat bahwa praktek operasional rasioning (pola berpemikiran) dan memorizing (pola penyimpanan data) dalam fase yang pertama berbeda sama sekali dengan yang berlangsung pada masyarakat yang sudah mengenal tulisan dan selalu mengaitkan (menyesuaikan) semua aktivitasnya dengan sebuah teks tertulis.

Pada fase yang pertama, fenomena historis menunjukkan bahwa Kitab Suci (Al-Qur'an dalam pengertian awal yang dimaksud oleh berbagai ayat Al-Qur'an [2]) adalah sebuah pedoman umum yang masih bersifat alami, terbuka dan inklusif (secara egaliter menjadi milik semua komunitas sahabat yang hidup bersama Nabi saw.).

Refleksi Studi Al-Qur'an

Hakikat Teks Al-Quran

Teks sebagai teks itu sendiri adalah makhluq yang mati. Terlepas dari perdebatan berdarah yang pernah terjadi, Al-Qur'an sebagai sebuah "teks" juga harus diposisikan sebagai benda mati yang bisa difungsikan sesuai dengan tuntutan "konteks" yang melingkupi pembaca dan transformatornya (orang yang berupaya untuk mengadopsi "petunjuk-petunjuknya"). Karena itu, beragam corak dan aliran interpretasi yang pernah timbul juga disebabkan oleh kedudukan Al-Qur'an sebagai Kitab Suci, atau katakanlah yang disucikan oleh orang-orang yang bersaksi "bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya".

Tingkat relevansi sebuah teks yang "mati" dengan berbagai konteks personal, ruang dan waktu itu banyak dipengaruhi oleh struktur dan sistematika teks, gaya bahasa, validitas kontentum dan prinsip-prinsip umum (al-mabâdi‘ al-‘âmmah) yang tercakup dalam teks itu. Atau dengan bahasa lain: ketahanan sebuah teks menghadapi seleksi alam berkorelasi erat dengan falsafah teks itu sendiri.

30.5.16

Falsafah AlQuran

Essai Tentang Falsafah Al-Qur'an (Konteks I'jâz dalam Menghadapi Tantangan Modernitas)

Al-Qur'an diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat Manusia. Allah berfirman: "Ini adalah sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A‘râf: 2)

Fungsi Al-Qur'an sebagai petunjuk ini ditegaskan oleh Al-Ustâdz Al-Imâm Muhammad ‘Abduh, sehingga beliau menyatakan bahwa tujuan yang pertama dan utama dari ilmu Tafsir adalah: merealisasikan keberadaan Al-Qur'an itu sendiri sebagai petunjuk dan rahmat Allah, dengan menjelaskan hikmah kodifikasi kepercayaan, etika dan hukum menurut cara yang paling bisa diterima oleh pikiran dan menenangkan perasaan. Dengan demikian, tujuan yang sebenarnya dari ilmu ini adalah untuk mencari petunjuk kebenaran di dalam Al-Qur'an. (Al-Khûlî, 1995: 229)

Akuntabilitas Al-Qur’an

Aspek Aksiologis dari Falsafah Al-Qur'an


Meskipun agak dikesampingkan - atas nama obyektivitas - dalam awal proses penerapannya, Falsafah Al-Qur'an - sebagai sebuah ilmu dan bukan hanya sebagai sebuah prinsip-prinsip etis yang bersifat umum - pastilah ditujukan untuk membuktikan validitas Al-Qur'an secara ilmiah dan menghidupkan potensi internal Al-Qur'an itu sendiri (tidak dalam konteks metafisiknya) menghadapi perkembangan realitas.

Menghidupkan Al-Qur’an

Dunia ini memperlihatkan beberapa fenomena peradaban teks, sebuah peradaban yang memposisikan sebuah teks "suci" menjadi poros sentral pergerakan dan perkembangannya, di antaranya adalah peradaban Islam. (Abû Zayd, 1994: 9)

Dalam fenomena seperti ini, bisa dibayangkan adanya proses pemantulan entitas ontologis yang berlangsung bolak-balik antara Al-Qur'an dan ummat Islam. Hakikat ontologis dan ajaran-ajaran Al-Qur'an bisa dilihat dan dinilai dari peradaban dan prilaku ummatnya. Dan sebaliknya, fenomena historis yang berlangsung secara keseluruhan dalam kehidupan ummat bisa dirujukkan ke dalam Al-Qur'an.

Sayangnya, sejak beberapa abad yang lampau dan sampai saat ini, ummat Islam tidak mampu membumikan Al-Qur'an itu dalam kehidupan nyata, seutuhnya. Bagaikan sebuah kaca retak, ummat Islam memantulkan sebuah gambaran yang cacat tentang kebenaran Al-Qur'an.

Episteme dan Metodologi Interpretasi AlQuran

Epistéme Penafsiran Al-Qur'an


Ada beberapa terminologi prinsipil yang seharusnya diperhatikan dan membayangi alam bawahsadar seorang interpreter Al-Qur'an, antara lain:

  • Anakronisme
  • Intertekstualitas
  • Historisitas
  • Interpretasi

Episteme dan Metodologi Interpretasi AlQuran

26.5.16

Nabi Muhammad Adalah Cahaya

Benarkah Nabi Muhammad Adalah Cahaya?

Nabi Muhammad Adalah Cahaya, Penerang Dan Seorang Manusia Biasa Yang Lebih Baik Dari Semua Makhluk Ciptaan Allah.

PERTANYAAN:
APAKAH NABI SAW., BENAR - BENAR CAHAYA, ATAU MANUSIA BIASA SEPERTI KITA SEBAGAIMANA YANG DIGAMBARKAN AL-QUR’AN?


JAWABAN:
Benar, Nabi Muhammad SAW,. adalah cahaya, Allah berfirman : "Hai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak isi alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan "( Al-maidah : 15 ). 

Dan Allah berfirman : "Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya , dan untuk menjadi cahaya yang menerangi" ( Al-ahzab : 46 ).

Beliau SAW., adalah cahaya dan penerang, maka tidaklah salah apabila anda mengatakan Nabi Muhammad SAW., adalah cahaya. Karena Allah Swt., telah menamai beliau dengan cahaya. 
  • Dalam suatu riwayat para sahabat pernah berkata : "Wajah beliau SAW,.seperti bulan". (An-Nasai, Al-kubra 5/187 dan 6/155. At-thabrani, al- kabir 10/47).
  • Ketika ibu beliau SAW., hamil ibunda melihat cahaya yang meneranginya secara kasat mata dari negeri Syam. (At-thabrani, At-tarikh 1/458. Ibnu Hisyam, As-sairah An-nabawiyah 1/302) 
  • Diriwayat lain para sahabat-sahabat RA., Berkata bahwa nabi SAW,. "Ketika memasuki kota madinah beliau menerangi segalanya. Dan ketika beliau wafat segalanya menjadi gelap." (HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad, 3/268. At-tirmidzi, sunan tirmidzi 5/588. Ibnu Majah, Shahih Ibnu Majah 14/601 ).
  • Dan riwayat lainnya yang menjelaskan bahwa beliau saw,. Adalah cahaya.
Tidak pantas kita mengingkari bahwa beliau adalah cahaya karena tidak bertentangan dengan aqidah islamiyah, dan juga tidak bertentangan dengan tabiat beliau sebagai manusia biasa seperti yang digambarkan AlQur’an. 
Beliau Adalah Cahaya, Penerang, Dan Seorang Manusia Biasa, Tanpa Ada Tafsil Dan Penyamaan. 
Yang tidak boleh adalah menafikan sifat-sifat kemanusiaan beliau SAW., karena bertentangan dengan nash Al-Qur’an. Allah SWT berfirman : "Katakanlah aku adalah manusia seperti kamu yang diberi wahyu ( oleh Allah )". ( Al kahfi : 110 )

Prophet Muhammad HD Wallpaper
Dalam hal ini sebaiknya, kita tetapkan apa yang telah Allah SWT., tetapkan bagi nabiNya SAW.,. Beliau adalah cahaya, penerang, dan seorang manusia biasa, tanpa ada tafsil dan penyamaan. Karena menetapkan beliau sebagai cahaya tidaklah menafikan sifat-sifat beliau sebagai manusia.
Seperti bulan, secara kasat mata permukaan bulan terlihat seperti lapangan terhampar namun bercahaya. Nabi SAW,. tentulah lebih baik dari pada bulan, bahkan lebih baik dari semua makhluk ciptaan.
Demikianlah penjelasan kami mengenai nabi SAW., adalah cahaya. Semoga Allah memberi kita hidayah jalannya yang lurus. 

Wa akhiru da’wana anil hamdulillahi rabbil a’lamin.

Copyright © Habib Blog

Designed By: Fauzi Blog