30.8.15

Kalau Tidak Karena Nabi Muhammad, Allah Tidak Akan Menciptakan Alam Semesta

PERTANYAAN:

APAKAH UNGKAPAN INI BENAR : "KALAU TIDAK KARENA NABI MUHAMMAD SAW,. ALLAH TIDAK AKAN MENCIPTAKAN ALAM SEMESTA"

APAKAH UNGKAPAN INI TIDAK BERTENTANGAN DENGAN DASAR-DASAR AQIDAH?

APA ARTI YANG SEBENARNYA?

JAWABAN:

Semua perkataan yang diucapkan oleh orang yang beriman hendaklah kita maknai dengan makna yang tidak bertentangan dengan asas-asas ketauhidan. Tidak sepantasnyalah kita tergesa-gesa menuduh mereka; kafir, fasik, sesat atau ahli bid’ah.

Jika agama Islam yang mereka anut tidak keluar dari koridor Al-Qur’an dan Hadits, tidak seharusnya kita maknai ucapan mereka dengan makna dhohir lafadznya, walaupun ada makna kekufuran atau kefasikan. Ini adalah kaidah umum yang seharusnya diaplikasikan oleh seorang muslim pada semua ucapan yang mereka dengar dari saudara mereka sesama muslim.

Kita ambil contoh misalnya : seorang muslim meyakini bahwa nabi Isa AS., menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah, beliau tidak bisa melakukannya sendiri tapi dengan izin Allah SWT., dan qudratnya. Sedangkan seorang kristiani meyakini bahwa Nabi Isa AS., menghidupkan orang yang telah mati, tapi mereka berkeyakinan bahwa itu adalah dari kekuatan pribadi nabi Isa AS., mereka meyakini bahwa nabi Isa AS., adalah Allah, anak Allah, atau salah satu dari oknum Allah.

Karena itu, bila kita mendengar seorang muslim yang taat berkata : "Saya meyakini bahwa Nabi Isa A.S, menghidupkan orang yang telah mati" dan kalimat ini juga diucapkan oleh orang-orang kristiani. Maka tidak seharusnya diyakini bahwa ia telah bertukar agama karena telah mengatakannya, tapi kita maknai ucapannya dengan makna yang layak dengan agama Islam dan asas-asas ketauhidan.

Ungkapan (Kalaulah tidak karena nabi Muhammad SAW, Allah tidak akan menciptakan alam semesta) secara lafazd dan maknanya tidaklah mengindikasikan kesyirikan. Apabila seorang muslim meyakini bahwa Allah menciptakan alam semesta karena seorang makhluk, bukan berarti ia telah kafir atau murtad. Walaupun sebenarnya apa yang ia yakini sesuatu yang tidak benar, (Ini apabila apa yang diyakininya salah).

Ungkapan : "Kalaulah tidak karena Nabi Muhammad SAW, Allah tidak akan menciptakan alam semesta," maknanya tidaklah sama dengan lafazd dhohir-nya. Ungkapan ini tidaklah bertentangan dengan tauhid agama Islam, bahkan memperkuat ketauhidan itu apabila dipahami dengan benar yang insyaAllah akan kita jelaskan berikut ini:

Makna kalimat "kalaulah tidak karena nabi Muhammad Allah tidak akan menciptakan alam semesta" Ada dalam firman Allah : "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku" ( Az-zuriat : 56 ).

Mengaktualisasikan ibadah adalah tujuan dari penciptaan manusia, sedangkan ibadah tidak akan terlaksana tanpa adanya orang yang beribadah. Dan sebaik-baik orang yang beribadah adalah nabi Muhammad SAW, dia adalah simbol dari ibadah dan ketauhidan.

Ayat diatas hanya berbicara tentang jin dan manusia, tanpa berbicara tentang alam semesta. karena sebenarnya alam semesta diciptakan untuk mengabdi pada manusia. Allah berfirman: "Dan kami menundukkan untuk kamu apa yang ada di langit dan di bumi semuanya, sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kebesaran Allah ) bagi orang-orang yang berfikir "( Al-Jasiah : 13 ).

Nabi kita Muhammad adalah simbol kemanusiaan, bahkan beliau adalah manusia yang paling sempurna. Allah telah berfirman kepada nya : "Hai manusia sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, pasti kamu akan menemuinya" ( Al-insyiqaq : 6 ).

Oleh karena itu, kalimat "kalaulah tidak karena Nabi Muhammad SAW., Allah tidak akan menciptakan alam semesta," sesuai dengan syariat ajaran islam. Nabi Muhammad SAW,. adalah pengaktualisasi tujuan penciptaan alam semesta, karena beliau adalah simbol dari terlaksananya ibadah dan tauhid di alam semesta.

Beliau adalah manusia yang paling sempurna dan simbol dari kemanusiaan, yang karenanyalah Allah SWT,. menciptakan apa yang ada di langit dan di bumi.

Wallahu a’lam

AlBayan AlQawim Li Tashhihil Ba'dul Mafahim Karya Ali Jum'ah

JUDUL BUKU : AL-BAYAN AL-QOWIM LI TASHHIHI BA’DUL MAFAHIM
PENGARANG : Dr. Ali Jum’ah (Mufti Negara Mesir)
PENERBIT : DARUL SUNDUS LIT TUROTS AL-ISLAMY
ALAMAT PENERBIT : JLN. SAID AD-DAWAKHILI- DEPAN MESJID AL-AZHAR, AL-HUSAIN TLP. 0123707026-0122592467-5897529
DITERJEMAHKAN OLEH : MUHAMMAD HABIB EFFENDI

MUQODIMAH


Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah pada pimpinan para Rasul, keluarga dan sahabat-sahabatnya.

Mudah-mudahan buku ini bisa memperbaiki sedikit permasalahan dari sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang terbersit dalam pemikiran banyak orang pada abad ke-14 hijrah ini.

Buku ini memuat pertanyaan-pertanyaan. Ada yang dengan sengaja kami buat, dan ada yang tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjadi masalah dan rentan bisa memecah-belah umat Islam.

Permasalahan suatu golongan yang menggembar-gemborkan bahwa pendapat mereka sajalah yang benar. Golongan lain yang berpendapat beda, adalah golongan orang-orang murtad, fasik, pembenci Rasul SAW., berkepala batu, arab badui, munafik, zindik, musyrik, atau paling tidak dicela sebagai golongan yang memudah-mudahkan perkara agama.

Permasalahan yang kami muat dalam buku ini, adalah permasalahan yang telah membuat umat Islam resah. Meskipun para ulama masih memperdebatkan jawabannya. Dan setiap mazhab-mazhab memiliki dalilnya masing-masing.

Dilain sisi, ada sekelompok orang yang berusaha mengungkit-ngungkit permasalahan fiqih pada zaman dahulu, sehingga permasalahan fiqih pada zaman sekarang menjadi sejuta masalah. Menurut aqal, apakah bisa kita tidak berbeda pendapat pada sepuluh ribu masalah fiqih saja, sedangkan setiap kita berupaya untuk memperkuat pendapatnya masing-masing. Hingga terkadang ada usaha-usaha yang tidak mengindahkan adab kesopanan, akibat dari kurangnya pemahaman ilmu fiqih yang benar dan juga akal yang sehat.
Meluruskan Pemahaman Yang Salah Sehingga Menjadi Pemahaman Yang Benar
Dalam buku ini, kami akan meluruskan pemahaman-pemahaman yang salah hingga menjadi pemahaman yang benar, menjelaskan dalil-dalil yang digunakan para ulama untuk menjawab semua permasalahan yang ada. Serta meyakinkan, bahwa asumsi semua permasalahan fiqih telah disepakati umat Islam, dan tidak ada perbedaan pendapat, adalah asumsi yang salah. Karena mengenai satu permasalahan fiqih saja, banyak ulama yang berbeda pendapat. Apalagi ulama-ulama yang berpendapat beda dengan pendapat jumhur.

Melihat permasalahan ini, kita tidak boleh menjadikan perbedaan pendapat menjadi penyebab perpecahan diantara umat Islam, tapi hendaknya menjadi pemicu agar menjadi penyebab lebih dicintai Allah SWT., dan RasulNya.

Semoga Allah SWT., menjadikan buku ini, buku yang bermanfaat untuk kita semua dan menghilangkan apa yang tidak jelas didalamnya.

Kami berdoa memohon pada Allah SWT., dan juga berupaya semoga umat Islam menjadi umat yang bersatu-padu.

motto kami adalah :

"Wajar bila kita berbeda dalam berpendapat, dan tidaklah wajar bila kita satu pendapat"
"Suatu mazhab tidaklah boleh menyalahkan mazhab yang lain "
"Hasil ijtihad tidaklah menggugurkan ijtihad lainnya".


Semoga Allah SWT., menjadikan buku ini sebagai pemberat timbangan kebaikan pada hari kiamat kelak.

Pengarang



Ali Jum’ah

17.12.14

2 Column Seo Friendly Blogger Template

Seo friendly Blogspot template 2 kolom yang fast loading dan dilengkapi dengan fitur-fitur seo terbaru ini tentunya sangat mumpuni untuk bersaing di mesin pencari. Setiap snippet (150 kata diawal artikel) akan secara otomatis menjadi seo meta description pada halaman post tersebut.

Untuk mengoptimalkan fitur automatic seo friendly meta description pada template ini, tentunya pengguna template harus menuliskan kata-kata dan kalimat yang menarik minat pembaca atau menggunakan kata kunci - keyword yang biasa digunakan orang dalam mencari di seach engine.

Selain itu, template ini juga sangat adsense friendly karena dilengkapi dengan widget yang sudah diatur sesuai dengan ukuran iklan adsense dan social network friendlykarena sudah melekat pada sisi kiri template, 3 buah sliding facebook, twitter, google plus share, sehingga pengguna maupun pengunjung dapat dengan mudah berbagi artikel ini dimedia sosial.

Perlu diingat, untuk mengoptimalkan Fast Loading fitur pada template ini, pengguna template disarankan untuk menghapus beberapa widget default blogspot, diantaranya: Navbar1Attribution1, dan hapus pula <b:include data='blog' name='google-analytics'/> pada template ini. Dijamin, kecepatan blog akan meningkat 5%-10%. Kunjungi link berikut untuk demo.

Tersedia beberapa tipe template untuk didownload:

2 Column Seo Friendly Basic
2 Column Seo Friendly Without Slider
2 Column Seo Friendly With Slider

7.12.14

3 Columns Blogspot Template Seo Ready

Template blogger dengan 3 kolom ini Saya yakin benar-benar seo friendly dan penuh dengan snippet jejaring sosial dan mesin pencari. Seperti biasa, template ini didesain dengan sederhana disertai dengan petunjuk dan penanda bagian template sehingga mudah untuk dipelajari, diubah dan didesain ulang sesuai selera penggunanya.

Template blogspot ini seo ready karena sudah dilengkapi dengan label bahasa dan negara (hreflang), otomatis metadesciption (blogspot snippet sebagai metadeskripsinya), menggunakan format html5 dan dihiasi dengan sedikit css3 dan hebatnya lagi, template yang satu ini menggunakan sedikit saja javascript atau jquery.

Seo Ready - Blogspot Seo FrinelyTemplate 2015


Walau bagi beberapa pengguna blogspot (yang sudah expert), template 3 column ini dirasa masih terdapat kekurangan terutama pada desain, namun demikian dipastikan template ini benar-benar SEO, disukai oleh mesin pencari dan dapat bersaing dengan template lainnya.

Dalam pembuatan template ini, dibuat 3 jenis template, yaitu Seo Ready Basic Blogger Template, Seo Ready Template Without Slider dan Seo Ready With Slider. Pengguna template boleh memilih dan memakai tipe apa yang disukai dan semuanya murni gratis tanpa syarat. Boleh dihapus seluruh link pada footer, boleh didesain ulang, dan boleh diakui sebagai milik/ karya pribadi. Saya berterimakasih sekali jika pengguna blogspot sudi memakai dan membagikan template ini kepada siapapun: Cyber is yours :D

Fitur-fitur templarte ini:
  1. 3 Columns Homepage: 20% Left Sidebar, 50% Content Wrapper dan 30% Right Sidebar
  2. 2 Columns Single Post: 70% Content Wrapper dan 30% Right Sidebar
  3. 1 Column Static Page
  4. Fullpost pada artikel pertama dan auto readmore pada artikel selanjutnya.
  5. HTML5 CSS3
  6. Hreflang Ready
  7. Seo Title, Seo Robots, Seo Metadescription
  8. Google Rich Snippets Ready
  9. Breadcrumbs
  10. Related Posts
  11. Stylist Threaded Comments
  12. Next and Previous Posts Widget
  13. Page Pagination
  14. Posts And Comments Statistics
  15. Automatic Slider
  16. Dan masih banyak lagi.

Demo 

Download Seo Ready Basic
Download Seo Ready Tanpa Slider
Download Seo Ready Dengan Slider

29.9.13

Penggunaan Kata Said Atau Sayyidina Terhadap Rasulullah

Apa Hukum Menggunakan Kata "Said" Untuk Nabi Muhammad SAW Dalam Shalat Dan Diluar Shalat?

JAWABAN:

Kaum muslimin sepakat adanya siadah (sifat kepemimpinan, kemuliaan, kehormatan ) bagi Nabi SAW, Imam Syarqowi berkata:

lafaz " saidina " adalah panggilan untuk Nabi SAW. Adapun orang yang mengingkarinya dengan berdalil  beberapa  hadist yang dhawahirul hadistnya (tekstualnya) seperti melarang menggunaan kata "saidina" untuk Nabi SAW tidaklah benar.

Hadist yang mereka gunakan adalah:

-Apa yang diriwayatkan dari Abu Nadhrah, dari Matrap Ibnu Abdillah Bin Syakhir berkata: berkata Ayahku, aku pergi  bersama rombongan Bani Amir menemui Rasulullah SAW kami berkata pada Beliau:

"Anta Saiiduna" (engkau adalah pemimpin kami yang mulia), lantas Nabi SAW menjawab: "Assaidu (pemimpin yang mulia) adalah Allah SWT; kami berkata: "Engkau adalah orang yang  paling baik dalam berbicara dan orang paling mulia". Rasul SAW menjawab: "Ucapkanlah apa yang terbaik menurutmu, tapi janganlah kamu mendekati  perbuatan syaitan".

-Dalam riwayat yang lain beliau ( Abu Nadhrah ) berkata:

Seorang laki–laki mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata: "Engkau adalah said (pemimpin yang mulia) bangsa Quraisy; Nabi berkata: "Said itu adalah Allah SWT". Ia berkata lagi: "Engkau  adalah orang yang paling baik dalam berbicara dan orang paling mulia". Maka Rasulullah SAW berkata : "Ucapkanlah apa yang terbaik menurutmu, janganlah kamu mendekati  perbuatan syaitan".


Para Perawi hadist seperti Abu Daud dan yang lainnya menempatkan hadist ini dalam buku mereka pada bab "dibencinya sifat saling memuji". Apa yang mereka pahami dari hadist ini adalah Nabi SAW mengajarkan umatnya agar jangan saling memuji.

Ma’mar berkata: "Ada seorang laki-laki yang memuji-muji seorang pemimpin, lalu Miqdad melemparkan pasir ke wajahnya seraya berkata: "Rasulullah menyuruh kami untuk melempar pasir di wajah orang yang suka memuji-muji".(HR. Muslim, shohih muslim 4/2297 ). Bisa dipastikan pujian dapat mendatangkan sifat menjilat dan perbuatan tercela lainnya yang berakibat bisa menjadikan seorang muslim angkuh.

Pemahaman inilah yang dipahami para ulama, Ibnu Astir berkata di dalam bukunya "An-Nihayah": "Beliau SAW berhak untuk dipanggil "saidina". Beliau enggan dipuji-puji dihadapannya (oleh karena itu beliau melarang) dan lebih memilih untuk bertawadu’". Ada hadist yang menceritakan bahwa para sahabat berkata: "Engkau said kami", Nabi berkata: "Berkatalah dengan perkataanmu". Maksudnya panggillah aku nabi dan rasul sebagaimana Allah memangilku. Janganlah kalian panggil aku said  seperti kalian memanggil pemimpin kalian, aku ini bukanlah seperti mereka yang memimpin kalian dalam urusan dunia.

Ibnu Muflih berkata tentang makna kata said: "Kata said digunakan untuk sebutan seorang pemimpin, raja, orang yang mulia, terhormat, hakim, orang yang memikul tanggng jawab dari rakyatnya, suami, ketua dan orang yang diutamakan. (Al-adab Asy-syar’iyah, Ibnu Muflih 3/456  cet. ‘Alamul Kutub). Tidak diragukan lagi bila ditinjau dari maknanya, penamaan itu sesuai  untuk Nabi SAW. Ibnu Mansur berkata: "Nabi SAW tidak suka dipuji-puji dihadapannya dan lebih memilih untuk bertawadu’".

Menurut hadits, secara hakikat lafaz "said" hanyalah untuk Allah SWT Apabila digunakan untuk selain Allah maka termasuk majaz. Seperti ucapan: "Dia penyayang, kata penyayang secara hakikat adalah Allah SWT.

Allah SWT berfirman: "Katakanlah, malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada tuhan-mulah kamu akan dikembalikan." (Assajadah:11).

dilain ayat Allah SWT berfirman: "Allah mewafatkan jiwa (orang) ketika matinya." (Az-zumar:42).

Bahkan Allah SWT menyebut "said" untuk seseorang yang derajatnya lebih rendah dari Nabi  Muhammad SAW seperti Nabi Yahya AS, dalam firmannya: "Kemudian malaikat jibril memanggil Zakariya, sedangkan ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (malaikat berkata): "Sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kelahiran putramu Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, menjadi said (ikutan), menahan diri dari hawa nafsu, seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang sholeh." (Ali–Imron:39)

Oleh karena itu Nabi SAW menggunakan lafaz "said" untuk selain Allah SWT beliau menyebut sahabatnya dengan  "said".

Sa’ad bin  Muaz RA berkata: "Rasulullah SAW berkata kepada kaum Anshar: "Berdirilah untuk menghormati said kalian." (HR. Bukhari, Shahih Bukhari 2/900. Shahih Muslim 3/1388)

Beliau SAW juga menggunakan lafaz said untuk diri beliau. Ketika bersabda: "Aku adalah said  untuk anak cucu adam pada hari kiamat, (aku) tidak sombong". (Shahih Muslim 4/1782)

Beliau SAW berkata untuk Hasan RA: "Sesungguhnya dua anak saya (Hasan dan Husain) ini adalah said". (HR. Bukhari, Shahih Bukhari 2/ 962)

Sebagian sahabat Nabi SAW memanggil beliau: "Wahai said".  Sahal bin Hanif berkata: "Ketika kami berpergian kami melewati sebuah sungai, maka kami pun mandi disungai itu. Setelah selesai mandi tidak lama setelah itu kami terserang demam. Maka hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW lalu beliau bersabda: "Suruhlah Abu Tsabit untuk berta’awuz. Lalu aku berkata: "Wahai saidku, apakah rukyah itu bisa menyembuhkan. Beliau bersabda: "Rukyah itu hanyalah untuk tiga keadaan: demam, kerasukan, gigitan ular."

hadits-hadits tadi menunjukkan bahwa:

-Kata "said" secara hakiki adalah untuk Allah SWT

-Nabi SAW enggan dipuji-puji di hadapannya.

-Menggunakan lafaz  "saidina" untuk beliau, atau lafaz yang digandengkan dengan nama beliau merupakan bagian dari adab kesopanan yang diakui oleh Nabi SAW dan para sahabatnya RA.    

Adapun hukum menggunakan kata "said" untuk Rasulullah SAW dalam shalat, azan, dan ibadah lainnya para ulama berbeda pendapat. Di dalam buku-buku fiqh dari berbagai mazhab, sebagian ulama ada yang berpendapat sunnah hukumnya menggunakan lafaz "said" sebelum nama beliau SAW walaupun dalam ibadah seperti shalat atau azan.

Ulama Hanafiah  seperti Hashkafi pengarang buku "Ad-Darul Mukhtar" berkata: "Sunnah menggunakan kata said untuk Nabi SAW karena penambahan keterangan dari yang ada adalah bagian dari adab kesopanan. Menggunakannya lebih baik dari pada tidak menggunakannya. Ulama Syafi’iah, Ar-Ramli dan yang lainnya juga berpendapat sama. Adapun riwayat yang menyatakan: "Janganlah kalian menyebutku said dalam shalat" adalah riwayat dusta. Dan riwayat "la tasiiduuni" dengan huruf  "ya" adalah salah penyebutan yang benar adalah dengan huruf "waw". (la tasuduni). (Ad-darul Mukhtar, Hashkafi 1/512).

Ulama Malikiyah, An-Nafrawi mensunnahkan hal itu. Mereka berkata: "Yang demikian itu adalah bagian dari adab sopan santun, mengerjakan adab lebih baik dari pada  mengerjakan perintah.

Syekh Al-Hatab Al-Maliki berkata: "Ibnu Muflih Al-Hambali berpendapat seperti itu juga".

Syeikh Izzuddin bin Abdus Salam berkata bahwa yang menyebabkan Ulama berbeda pendapat dalam mengucapkan "said" dalam shalat adalah: manakah yang lebih baik, mengerjakan perintah  untuk tidak menggunakan kata "said" didalam shalat dan ibadah lainnya, atau menggutamakan adab kesopanan? Pendapat yang kuat menurut saya, dan saya mengamalkannya adalah: menggunakan lafaz "said" untuk Nabi SAW dalam shalat dan ibadah lainnya lebih diutamakan. wallahu a’lam." (Mawahibul Jalil Sharhu Mukhtashor Khalil, Muhammad bin Abdur Rahman Al- Hatab 1/21).

Dari Ulama Syafi’iyah, Syafi’i kecil (Syamsudin Ar-Ramli) berkata: "Yang lebih baik adalah menggunakan lafaz said". Pendapat ini juga diutarakan oleh Ibnu Zhahirah, pendapat banyak ulama, fatwa Ibnu Syarih. Karena  mengucapkan lafaz said sebelum nama Nabi SAW adalah mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syariat agama, dan juga penambahan kata dari apa yang ada adalah bagian dari adab kesopanan, mengerjakannya lebih baik dari pada tidak."

Imam Isnawi masih ragu mana yang lebih utama mengerjakannya atau tidak mengerjakannya.

Adapun mengenai hadist: "la tasiiduni fisshalah" (janganlah kamu menyebutku said dalam sholat), menurut para hufaz (gelar ahli hadist) hadits itu adalah bathil, tidak ada dasarnya. (Tuhfatul Muhtaj, Ar-Ramli 2/86).

Imam Ar-ramli berkata didalam kitab hasyiahnya: "Imam Al-Jalal Al-Mahalli berfatwa bahwa sebaiknya menggunakan lafaz said sebelum nama Beliau SAW  karena hal itu merupakan pengamalan dari apa yang diperintahkan agama. Dan juga penambahan kata dari yang ada adalah  bagian dari adab kesopanan, walaupun Imam Isnawi masih ragu mana yang lebih diutamakan; mengerjakannya atau tidak mengerjakannya. (Hasyiah Ar-Ramli ‘Ala Asnal Mathalib 1/166).

Imam Syaukani berkata: "Ibnu Abdus Salam  mengatakan bahwa menggunakan kata said sebelum nama Nabi SAW adalah bagian dari adab sopan santun. Pendapat ini didasari dari pendapat mengerjakan adab sopan santun lebih baik dari pada mengerjakan perintah. Pendapat ini dikuatkan oleh hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abu Bakar ketika beliau diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk menjadi Imam shalat sedangkan Rasul menjadi makmum beliau tidak menaatinya. Abu Bakar berkata: "Tidaklah pantas bagi Ibnu Abi Quhafa (panggilan Abu Bakar) berada di depan sedangkan Rasulullah SAW berada di belakang.

Begitu juga dengan Ali RA beliau enggan menghapus kata "Rasul" untuk Nabi SAW dari lembaran perjanjian hudaibiyah ketika diperintahkan nabi SAW untuk menghapusnya. Beliau berkata: "Aku tidak akan menghapus namamu selama-lamanya.". Kedua hadist ini ada  di dalam kitab hadist shahih. Setujunya nabi SAW terhadap sikap dua sahabat yang enggan mengerjakan perintah beliau, menandakan bahwa adab kesopanan itu lebih baik untuk diutamakan. (Nailul Authar, Imam Syaukani 2/337-338).

Dari semua penjelasan kita dapat menyimpulkan bahwa  para imam mazhab fiqh syafi’iyah  seperti Al-Izzu bin Abdus Salam, Ar-Ramli, Al-Qalyubi, As-Syarkawi, dan dari Hanafiyah seperti  Haskafi, Ibnu Abidaini dan Imam Syaukani semuanya mensunnahkan penggunaan lafazd "saidina" sebelum nama beliau SAW  baik dalam shalat, azan atau ibadah lainnya.

Adapun penggunaan lafaz "saidina" di luar ibadah, ulama tidak berbeda pendapat, mereka semua membolehkannya. Sedangkan pendapat yang menentang kesepakatan ulama ini tidaklah memiliki dalil yang kuat.

Kami pilih dan kami kuatkan pendapat yang menyatakan bahwa menggunakan adab kesopanan terhadap Rasul SAW sang pemimpin semua makhluk, kekasih Allah SWT haruslah diutamakan selalu.

Wallahu a’lam.

Sumber: AlBayan AlQawim Li Tashhihi Ba'dul Mafahim
Karya: Dr. Ali Jum'ah
Diterjemah Kedalam Bahasa Indonesia Oleh: Muhammad Habib Effendi

27.8.13

25 Keunggulan Fastest SEO Friendly Blogger Template V.06.5

Template Blogspot dengan kombinasi fitur yang seo friendly dan retina friendly menjadikan Fastest SEO Friendly Blogger Template V.06.5 sedikit berbeda.Walau template ini bukan yang terbaik namun dapat memperkaya koleksi template para blogger dan dapat pula dijadikan sebagai materi untuk dipelajari karena template ini disusun dengan komponen-komponen yang sederhana dan mudah dianalisa.

Responsive Seo Friendly Blogger Template V.06.5


Template Blogspot ini masih dalam versi beta yaitu versi 06.5, tentunya masih jauh dari sempurna dan insyaAllah nantinya akan mencapai versi fullversion yaitu Fastest SEO Friendly Blogger Template V.1.

Dalam V.06.5 ini, Saya rangkum 25 Fitur dan keunggulan template ini:


  1. 99% Pure CSS Blogger Template
  2. Automatic Meta Description
  3. Seo Title With Keywords
  4. Metadata Opengraph
  5. HTML5 Elements
  6. CSS3 Style
  7. Snippet Schema.Org
  8. Google Rich Snippets Review
  9. Dinamic Heading Tags
  10. Adsense Ready
  11. Retina Ready
  12. Dropdown Menu
  13. Breadcrumbs
  14. Threaded Comments
  15. Related Posts Widget
  16. Fixed Navigation
  17. Social Network Buttons
  18. Auto Readmore
  19. 2 Column Index, 2 Columns Single Post, 1 Column Static Post, 3 Columns Footer
  20. Author Profil Widget
  21. Automatic Alt Title Images
  22. Lazy Loading Images
  23. Google Analytics Ready
  24. Easy To Modified And Combined With Any Scripts
  25. 100% Free/ Gratis Dengan Atau Tanpa Link

18.7.13

Berjumpa Dengan Nabi Muhammad SAW

Apakah Mungkin Dalam Keadaan Sadar Bisa Melihat Nabi Muhammad SAW?

Apakah Hakikat Sebenarnya Kejadian Ini (Melihat Nabi Muhammad)?

JAWABAN:

Persoalan melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar bukanlah bagian dari syariat agama, yang mengakibatkan adanya penambahan atau pengurangan dalam syariat agama. Ini adalah permasalahan yang harus dipertanggung jawabkan kebenarannya oleh orang yang mengaku mengalaminya. Persoalan ini termasuk dalam kategori mubasysyirat dan karamah.

Dengan melihat Nabi Muhammad SAW tidak berarti menafikan bahwa beliau telah wafat. Seseorang yang mengalaminya tidak berarti sebagai orang yang paling dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Kejadian ini tidak akan berakibat apa-apa.

Setelah kita tahu hal itu, secara logika coba kita perhatikan apakah kejadian ini termasuk kejadian yang mustahil?. Kejadian mustahil adalah apabila ada suatu benda di tempat yang berbeda pada waktu yang sama. Melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar bukanlah termasuk melihat suatu benda pada dua tempat berbeda dalam satu waktu. Karena tempat Nabi Muhammad SAW sebenarnya adalah didalam kubur beliau, beliau beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT, mengerjakan shalat dan lain-lain. Sebagaimana yang dilakukan para nabi, mereka mengerjakan shalat didalam kubur mereka.

Dari Anas RA, Rasulullah SAW telah bersabda: "Para nabi hidup dalam kubur mereka, mereka mengerjakan shalat". (Ad-dailami, Musnad Firdaus 1/119. Abu Ya'la, Musnad Abu Ya'la 6/147. Ibnu A'di, Al-kamil 2/327. Haitsami, Majmaazzawaid 8/211)

Dan diperkuat lagi dengan sabda beliau: "Aku telah melintas dihadapan Musa pada malam Isra' Mi'raj di daerah awan tebal yang merah, aku melihatnya melukan shalat didalam kuburnya". ( HR. Ahmad, Musnad Imam Ahmad, 2/315. Muslim, shahih Muslim 4/1845. An-nasa i, Sunan An-nasa i 1/419. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban 1/242. Ibnu Abi Syaibah, Mushannif Ibnu Abi Syaibah 7/335. Thabrani, Ausath 7/13)

Bila seseorang dalam keadaan sadar melihat Nabi Muhammad SAW disekitar kuburan beliau hal ini bisa termasuk tanda–tanda kewaliannya. Kejadian ini tidaklah bertentangan dengan akal sehat dan juga diperkuat oleh nash yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab RA.

Ketika ia berkhutbah Allah menampakkan keadaan pasukan yang diutusnya di daerah Nahawan Persia, beliau memanggil mereka: "Wahai pasukan yang ada di gunung, ada musuh di balik gunung". Dan pasukan itu pun mendengar panggilan Umar. (HR. Thabrani, Tarikh Thabrani 2/553. Ibnu 'Abdil Barri, Isti'ab 4/1605. Ibnu Hajar, Al-Ishabah 3/6 )

Apabila kejadian ini terjadi pada selain Nabi, maka tidak hanya terbatas untuk Umar bin Khattab atau para sahabat saja. Begitupula yang dinampakkan tidak harus hanya pasukan perang atau yang lainnya.

Melihat Nabi Muhammad SAW bisa berupa nabi yang sebenarnya, dalam artian Nabi Muhammad SAW berada di raudhah-nya (daerah sekitar kuburan beliau), Orang melihat Nabi Muhammad SAW, melihat gambaran beliau, maka gambaran itu adalah gambaran dari alam yang sama. Hal ini bisa terjadi dikarenakan besarnya rasa cinta pada Rasulullah SAW, selalu mempelajari riwayat hidup beliau dan merenungi kepribadian beliau. Seseorang bisa saja memiliki banyak gambar dikarenakan banyak permukaan yang memberinya pantulan, seperti cermin dan lainnya.

Hadist Nabi SAW yang memperkuat kemungkinan bisa melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, ia berkata:

"Aku mendengar Nabi SAW berkata: "Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadan sadar. Setan tidak akan bisa menyerupai aku".(HR. Bukhari, Shahih Bukhari 6/2567. Abu Daud, Sunan Abu Daud 4/305)

Ungkapan Nabi SAW: "...akan melihatku dalam keadan sadar..." menunjukkan adanya kemungkinan melihat beliau dalam keadaan hidup. Membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat sangatlah tidak cocok, karena dua hal:

Pertama: Semua umat Nabi Muhammad SAW akan melihat Nabi SAW pada hari kiamat, baik yang melihat beliau dalam mimpi di dunia, maupun yang tidak.

Kedua: Hadist tidak membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat. Membatasi kata "sadar" dengan hari kiamat termasuk at-takhsis bighairi mukhassis.

Permasalahan ini telah ada sejak zaman Imam Suyuthi, beliau mengarang mengarang sebuah buku tentang ini dengan judul "Tanwirul Halki Fii Imkani Rukyatunnabi Wal Malaki". Dalam muqaddimah buku itu beliau berkata:

"Telah banyak pertanyaan mengenai orang yang melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar. Pada zaman sekarang, ada sebagian orang yang kurang pengetahuannya, mengingkari hal ini dan bahkan berlebih–lebihan, mereka mengatakan itu adalah hal yang mustahil. Maka sayapun mengarang buku ini, dan saya beri judul : "Tanwirul Halki Fii Imkani Rukyatunnabi Wal Malaki".

Didalam buku itu beliau menulis dalil–dalil dan penjelasan-penjelasan yang menunjukkan adanya kemungkinan melihat Nabi SAW mendengar suaranya dan juga para Malaikat.

Kata "sadar" bila dikhususkan pada hari kiamat tidaklah tepat, karena pengkhususan itu tidak memiliki fungsi. Semua umat Muhammad SAW pada hari kiamat akan melihat beliau, baik yang memimpikan beliau maupun yang tidak. Dalam kitab Syarhul Hadits Ibnu Abi Hamzah (Tarjihul Baqaul Hadist 'Ala Umumihi Fii Hayatihi Wa Mamatihi Liman Lahu Ahliyatil Ittiba' Lissunnah Wali ghairihi) yang beliau ambil dari kitab hadist Imam Bukhari beliau berkata:

"Barang siapa yang berpendapat takhshish bi ghairi makhsush (mengatakan melihat nabi dalam keadan sadar hanya pada hari kiamat) maka ia salah. Ia mengingkari sabda Rasulullah SAW, ia tidak mengakui kekuasaa Allah, mengingkari karamah para Wali padahal dalil-dalil dari hadist sudah sangat jelas".

Imam An-Nafrowi Al–Maliki berkata: "Para Ahli Hadist menyepakati adanya kemungkinan melihat Nabi SAW dalam keadaan sadar atau mimpi, namun mereka memperselisihkan apakah melihat Nabi SAW dalam wujudnya asli atau hanya gambaran saja".

Kebanyakan Ulama berpendapat dengan pendapat yang pertama (melihat nabi dalam wujud aslinya), sedangkan Imam Al–Ghazali, Al-Imam Al-Qarafi, Imam Al-Syafi'i dan lainnya perbendapat dengan pendapat yang kedua (melihat nabi dengan gambarannya saja).

Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama beralasan: "Apa yang terlihat adalah bagian dari cahaya Rasulullah SAW adalah cahaya yang menerangi, seperti halnya kita melihat cahaya lentera, atau matahari dari kejauhan, begitu juga dengan tubuh Rasulullah SAW, beliau tidak meninggalkan kuburannya, akan tetapi Allah membuka hijab, menghilangkan semua penghalang hingga dapat dilihat oleh orang walaupun berada di Timur dan di Barat. Atau Allah SWT membuka hijab hingga terlihatlah apa yang tertutupi.

Imam Qarafi menegaskan bahwa apa yang ia mimpikan (mimpi melihat Rasul SAW) ketika tidur adalah suatu peristiwa yang membekas yang tidak dialami oleh tidur biasa. Mimpi ini dialami oleh mata hati bukan mata biasa sebab beliau mengalaminya dalam keadaan buta.

Ibnu Abi Hamzah dan sebagian ulama menceritakan bahwa mereka melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar.

Tidaklah boleh seseorang mengingkari hadist yang berbunyi "Barang siapa yang melihat aku dalam mimpi maka ia akan melihatku dalam keadaan sadar". Karena apabila ia mengingkarinya ia mengingkari adanya karamah para Wali dan metode penentuan hukum yang ia gunakan telah gugur, karena telah mengingkari apa yang telah hadist tetapkan. Syeihk Al-Qani menjelaskan hal ini didalam bukunya Sharhu Jauharuttauhid. (Al-Fawakih Ad-Dawani, An-Nafrawi 2/360).

Ibnu Hajj berkata didalam bukunyanya Al-Madkhal: "Sebagian orang ada yang mengaku melihat Nabi Muhammad SAW dalam keadaan sadar. Kejadian ini sangatlah jarang terjadi, tidak banyak orang yang mengalami kejadian ini, mereka yang mengalaminya tentulah orang yang memiliki sifat-sifat mulia pada zaman ini, bahkan hampir tidak mungkin menemukan mereka. Saya tidaklah mengingkari ada orang yang bisa mengalaminya, mereka adalah orang-orang mulia yang dijaga Allah SAW lahir dan batin mereka". ( Al-Madkhal, Ibnu Al-Haj 3/194).

Syeikh 'Alish berkata: "Melihat Nabi Muhammad SAW adalah salah satu faktor yang bisa menguatkan pendapat para ulama mujtahidin".

Imam Al-A'rif Abdul Wahab Sya'rani berkata: "Saya mendengar guru saya Aliyal Khawas berkata: "Menurut Ahli Kasyaf Qatibah (ahli tasawuf); tidaklah benar apabila seorang mujtahid berpendapat dengan pendapat yang melenceng dari syariat. Bagaimana mereka bisa melenceng sedangkan mereka berijtihad berdasarkan hasil penelitian mereka terhadap Al-Qur'an, hadist, pendapat para sahabat, dan berjumpanya ruh mereka dengan ruh Rasulullah SAW".

"Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW secara sadar dan berdialog langsung mengenai suatu permasalahan, apakah sesuai dengan dalil: "Wahai Rasulullah apakah ini perkataanmu atau tidak?". Sebelum menulis buku mereka, mereka bertanya kepada Rasulllah SAW mengenai Al-Quran dan hadist, bahkan mereka bernazar pada Allah SWT. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami memahami ayat dan hadist yang diriwayatkan si pulan seperti ini, apakah engkau ridha?". mereka mengamalkan apa yang mereka pahami dari perkataan dan isyarat Rasulullah SAW. Barang siapa yang tidak berkomentar tentang apa yang telah kami sebutkan mengenai kemampuan luar biasa para ulama dan pertemuan mereka dengan ruh Rasulullah SAW, kami katakan kepada mereka dengan penuh keyakinan: "Ini adalah bagian dari karamahnya para wali". (Fathul 'Ali Al-Malik, Syeikh 'Aliisy 1/92-93).

Dari semua pemaparan, kami berkesimpulan bahwa kejadian yang dialami orang -orang shalih seperti melihat Nabi SAW dalam keadan sadar, bisa saja terjadi. Tidak ada dalil aqli (logika) maupun nash Al-Qur'an atau hadits yang menafikannya. Tapi perlu diingat, tidak sembarang orang bisa mengalami kejadian ini, dan bila seseorang mengalaminya sebaiknya ia tidak menceritakannya pada orang yang tidak mempercayainya agar ia tidak dianggap berbohong. Berdialog dengan orang lain sesuai dengan jalan pemikiran mereka adalah cara berkomunikasi yang tepat.

Wallahu A'lam

Sumber: AlBayan AlQawim Li Tashhihi Ba'dul Mafahim
Karya: Dr. Ali Jum'ah
Diterjemah Kedalam Bahasa Indonesia Oleh: Muhammad Habib Effendi